Saya menemukan dua pepatah akhir Februari 2008 ini. Yaitu “hujan ge aya ra’at’na” dan falsafah serba untungnya orang Jawa. Kedua falsafah ini bukan pepatah yang terkesan penuh falsafah sebenarnya, dan bahkan lebih terkesan humor. Namun, ternyata dari pepatah yang kocak, masih ada juga terselip falsafah yang asyik dan berguna.
1. Hujan ge aya ra’at’na
“hujan ge aya ra’at’na” merupakan istilah orang Sunda-Bogor, yang kotanya memang lebih diguyur hujan ketimbang terkena sinar matahari. Pepatah ini bukan bermakna seperti apa adanya. Ada makna tersirat di dalamnya yang menggambarkan kearifan masyrakat Sunda dalam mensikapi hidup.
Hujan bagi sebagian orang tentunya bisa bermakna kegembiraan (apalagi buat kota-kota yang hawanya sangat panas separti Jakarta, Surabaya, atau Padang). Namun, secara umum, hujan biasanya diinterpretasikan negatif dalam benak kita. Coba saja, ketika kita lagi bersantai, duduk beralaskan tikar di rumah, atau apalagi saat kita hendak berpergian, tiba-tiba hujan mulai turun rintik-rintik. Ucapan yang lebih sering keluar yaitu bernada penyesalan seperti “Yaah… hujan”, jarang sekali keluar ucapan “Horee… hujan!”. Akan lain kalau kita tidak ingin keluar rumah, atau kalau kita masih berusia anak-anak yang masih doyan mandi hujan (inipun dengan catatan orangtua mengijinkan). Dalam konteks interpretasi negatif inilah, pepatah “hujan ge aya ra’at’na” memiliki makna yang dalam. Kearifan masyarakat Sunda untuk mensikapi hidup dengan optimisme. Meskipunbagi sebagian orang, pepatah ini masih juga dimaknai sebagai sikap terlaluy santai, cuek alias tidak mau tahu. Hujan juga ada berhentinya (“hujan ge aya ra’at’na”). Sesuatu pengalaman yang tidak mengenakkan, pasti tidak akan terus berlangsung selama seumur hidup. Pasti akan ada jeda, akan ada pergantian. Bergantian, saat-saat yang tidak menyenangkan berganti menjadi saat-saat yang menggembirakan, atau paling tidak biasa lagi. Seperti katanya bumi berputar, ada saatnya siang, ada saatnya malam, saat-saat yang tidak menyenangkan pasti akan berlalu. Jadi buat apa mensilapi “hujan” dengan kemurungan? Toh nanti juga akan berhenti.
2. Serba untungnya orang Jawa
Pada kaset (audio) lawak dari Grup Warkop DKI format kedua, saya menemukan lelucon tentang serba untungnya orang Jawa. Sebagai contoh, hampir terserempet mobil. Orang Jawa bukannya marah, mereka justru bilang “Untung nggak keserempet”. Kalaupun toh sudah keserempet pun masih bilang “Untung nggak patah tulang”. Kalaupun patah tulang tetap saja masih bilang “Untung nggak mati”. Apapun yang terjadi, orang Jawa masih beranggapan mereka beruntung.
Kesimpulan:
Berdasarkan Falsafah yang terkesan lugu, ternyata kalau kita bandingkan dengan falsafah-falsafah lain, kita menemukan satu butir kecerahan jiwa dalam diri masyarakat yang memegang pepatah tersebut. Nah, bukankah orang Jawa yang serba untung ini adalah gambaran orang yang selalu bersyukur? Dalam penderitaan apapun, selalu bersyukur. Selalu merasa untung.
Komentar Terakhir